Sabtu, 20 Februari 2010

Geologi merupakan ilmu bantu geografi yang mengkaji tentang struktur, proses pembentuk muka bumi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Keterangan Singkat Keadaan Geologi Indonesia.
Keadaan geologi Indonesia sangat kompleks sehingga merupakan obyek menarik untuk penelitian para ahli geologi, sejak zaman penjajahan hingga dewasa ini Indonesia ramai dikunjungi para ahli asing dalam bidang geologi, di samping ahli Bammelan mengemukakan dalam bukunya bahwa sekitar ini namun terakhir ini tidak kurang dari 1.000 orang ahli asing yang datang ke Indonesia, para ahli tersebut antara lain : RMI Rutten & Arowan (Ikhtisar Stratigrafi Indonesia), Ubgrovo (sejarah geologi indonesia), Blaufort & Rutten (Paleontologi Indonesia), Verboeok & Fennema (Tarikh Geologi Indonesia), Verstappen (Disertasinya mengambil DAS serayu), Keunen, Vening Minesz, Wallacea, Molangraf, Junghuhn dsb.
Adapun faktor-faktor yang menarik bangsa asing datang ke Indonesia adalah :
1. Banyak terjadi gempa bumi (sekitar 500/th), untungnya kebanyakan berpusat di dasar laut sehingga tidak terlalu banyak menelan korban jiwa dan kerugian materi.
2. Vulkanisme sangat aktif, sekitar 400-500 gunung yang ada di Indonesia, sekitar 128 diantaranya tergolong masih aktif, dari 128 gunung api aktif tsb 70 di kategorikan berbahaya, 25 diantaranya di awasi terus dimana hanya 6 diantaranya yang di awasi secara ketat dengan membangun pos pengamatan lengkap dengan penjaganya karena kekurangan tenaga ahli.
3. Adanya penyimpangan gaya berat /Anomali Grafitasi yang cukup besar, sekitar 204 mgal antara pulau sulawesi dan unlmahera.
4. Relief yang sagat kasar, tempat tertinggi sekitar 5.030 m (puncak jaya) & yang terendah mencapai 5.800 m (L.Banda).
5. Endapan yang sangat tebal di indio-Geosinklinal, mencapai tebal sekitar 10.000 m, indio-Geosinklinal yang bentuk endapan begitu tebalnya menurut Haug hanya mungkin bila terjadinya proses sendimentasi seirama dengan proses penurunan daerah Geosinklinal itu secara pelan-pelan.
Adapun lokasi daerah yang diuraikan Van Bemmelan dalam bukunya tentang geologi Indonesia tidak terbatas pada bebas politik Indonesia saja. Dari segi Geotektonik sebenarnya Geologi indonesia hanya meliputi bagian sentral dari gugusan kepulauan antara Australia & antara L.Hindia & pasifik, akar bebas Van Bammelen menguraikan daerah yang lebih luas lagi, meliputi di seluruh wilayah yang terbentang antara 21oLU, 12oLS dan 92o15’BT-150o48’BT. Alasanya adalah untuk memperoleh gambaran Geologi Indonesia secara lebih baik dan lebih lengkap, karena masih ada kaitannya Demikianlah uraian Geologi Indonesia Van Bammelen meluputi juga daerah-daerah seperti : Malaysia, Kalimantan Utara, Philipina, irian timur, P.Cristmas, walaupun secara politis tidak termasuk Indonesia (ingat adanya kata “Indonesia Adjescent Archipclagoes” melongka judul bukunya).

B. Garis Besar Sejarah Terbentuknya Rangkaian Pegunungan di Indonesia
Rangkain pegunungan muda dunia yang kini nampak di dunia seperti Sirkum Pasifik Dan Sirkum Mediterran merupakan penganggkatan dari Geosinklinal utama yang terbentuk pada paleozoikum muda (Davon, perm, carbaon). Jadi siklus pembentukan pegunungan mulai dari terbentuknya Geosinklinal utama pada masa tsb.
Pada Era Mesozoikum bawah/tua, Indonesia masih bersambung dengan eropa lewat laut yang dikenal dengan nama laut tethys. Oleh karena itu maka penelitian-penelitian palaeontologi dan stratigrafi Indonesia guna penentuan tarikh Geologi, hingga era tertier masih dapat menggunakan hasil penelitian di eropa yang sudah di susun secara lengkap dan teratur karena fosil yang terbentuk pada masa yang sama di kedua bagian dunia memperlihatkan kesamaan-kesamaan akan tetapi untuk zaman prakambrium (Gryptoseikum), lapisan batuan di Indonesia sulit sekalli di susun berdasarkan umurnya karena tiadanya fosil yang berasal dari zaman ini yang di ketemukan kalaupun pada masa itu sudah ada kehidupan, fosil yang sudah terbentuk sudah mengalami kerusakan akibat proses-proses masa prakambrium telah tertimbun jauh di bawah lapisan endapan tertier dan kuartol sehingga sulit untuk diteliti.
Pada akhir sekunder/awal tertier terjadilah peristiwa geologi hebat di Indonesia yang dikanal sebagai Revolusi alami, dimana dasar laut tethya mengalami pengangkatan membentuk sirkum mediteran. Sirkum pasifik juga terbentuk pada masa ini, pengangkatan dari Geosinklinal utama ini di kenal sebagai Geo undasi (Bammelen atau General Undation (Stille)). Peristiwa undasi/ Penggelombangan inilah yang di uraikan yang Bammelen dalam mencoba menerangkan struktur geologi pokok rangkaian pulau-pulau di Indonesia dan sekitarnya. Kerangka pokok pulau-pulau kita berupa pegunungan itu ditelusuri dari usulnya lewat teori undasinya yang akan di bahas lebih lanjut dalam uraian dibelakang. Dengan demikian pegunungan-pegunungan muda yang banyak di ketemukan di Indonesia berasal dari masa Tersier, sedangkan lapisan-lapisan batuan berumur pratertier suadah jarang diketemukan/ hanya dibeberapa tempat masih dapat di ketemukan misalnya di daerah loh ulo, sebelah selatan klaten dsb. Pegunungan muda tadi, sirkum mediterran rangkaian pegunungan sirkum mediterran ini bermula dari daerah sekitar laut tengah, mulai dari peg. Atlas di Afrika Utara, Arab – irak – iran – Afganistan – Ttrans – Himalaya -Yunan barat laut. Kemudian membelok ke selatan melalui Thailand – Kamboja – Birma – Malaysia - masuk ke Sumatere-jawa-Nusatenggara dan berakhir di maluku selatan. Batas kedua rangkaian pegunungan muda dunia tersebut adalah deretan pulau-pulau mulai dari kepulaun banggai di lengan timur sulawesi ke timur melalui kep.sula misol terus ke Irian jaya.
Pada akhirnya Tersier – Awal Kuarter terjadilah peristiwa alam berikutnya di Indonesia yang ikenal sebagai Revolusi Alam II, dimana terjadi perlipatan hebat dan pembentukan pegunungan baru. Beberapa bagian dari daerah Geosinklinal Sumatera timur, jaya tenggara, Kalimantan selatan dan barat yang terisi dengan endapan tebal mengalami pengangkatan dan pelipatan hebat membentuk pegunungan 30, suligi-Lipat kain, kendeng Ridge dsb, adapun bukti-bukti yang dapat dijadikan pegangan bahwa daerah yang dahulunnya merupakan Geosinklinal/ daerah laut telah mengalami pengangkatan menjadi daratan al. :
1. Diketemukannya batu karang di puncak gunung yang tinggi. Hal ini di dasarkan pada hasil penelitian bahwa asal – usul dari batu karang adalah dari binatang kera yang hidupnya di laut dangkal/ daerah shelf dengan kedalaman tidak lebih dari 200 m.
2. Tambang – tambang minyak bumi yang diketemukan di daerah perbukitan sekarang ini menunjukan bahwa daerah tersebut dahulunya merupakan daerah laut yang mengalami pengangkatan, karena asal-usul minyak bumi adalah dari plankton yang hidup secara pelagos di dalam air laut.
Memasuki periode kuartel awal (Pleistosen / Diluvium) terjadilah 4 kali zaman Glasial di dunia diselingi zaman intergiasial yang pengaruhnya terasa pula sampai di indonesia pada zaman Glasial suhu bumi mengalami penurunan sekitar 2oC sehingga daerah es maluas dari kutub (mencapai lintang 40o di Amerika Utara). Akibatnya permukaan air laut turun sekitar 70 m, tetapi pada zaman Interglasial di mana suhu bumi naik lagi sakitar 2oC, Es mencair sehingga air laut naik kembali sekitar 70 m, dengan demikian pulau – pulau di indonesia barat seperti Sumatera, jawa, kalimantan bersambung pada zaman es dan terpisah oleh laut pada zaman Interglasial. Beberapa bukti yang dapat meyakinkan kita bahwa pulau-pulau di indonesia barat dahulu pernah bersambung (juga pulau-pulau di dangkalan sahul!) adalah :
1. Diketemukanya oleh ....laut alur-alur sungai di dasar laut yang menunjukan sungai-sungai dari jawa dan kalimantan bergabung kemudian bermuara diselat makasar, demikian juga sungai dari sumatera & kalimantan barat bermuara dilaut china
2. Jenis ikan di sungai-sungai kalimantan barat dengan sungai di sumatera timur, demikian juga di kalimantan selatan dan jawa utara sejenisnya. Ini menunjukan bahwa dahulu sungai-sungai tsb bersambung.
3. Flora dan Fauna ketiga pulau besar di indonesia barat itu sejenis, bahkan jauh sejenis dengan di darata asia tenggara.
4. Diketemukannya tambang tiamh endapan di dasar laut sekitar pulau-pulau bangka belitung singkep, suatu petunjuk bahwa dasar laut tersebut. Dahulu merupakan daratan / kaki gunung sakah kalau timah endapan tsb.terbawa oleh air sungai tentunya tidak masuk akal mengigat logam tsb. Cukup berat untuk terbawa air.
Sebagaimana diutarakan dimuka bahwa hingga periode pratertier masih ada hubungan langsung dengan eropa lewat laut tehtys, maka ahli – ahli yang meneliti keadaan Geologi indonesia mula-mula menyusun tarikh Geologi indonesia atas dasar Tarikh Geologi eropa yang telah tersusun teratur. Hal itu dimungkinkan kerena ada persamaan stratigrafi & paleontologi beberapa tempat di kedua daerah tsb. Tetapi setelah pratertier, hubungan tersebut terputus sehingga organisme di eropa dan indonesia mengalami perkembangan yang berbeda, lingkungan tempat hidupnya sudah sangat berbeda jenisnya sudah lain-lain. Sehingga fosil yang di ketemukan di kedua bagian dunia korelasi untku menyesuaikan umur lapisan batuan di kedua daerah tersebut. Orang yang mau memepelajari Geologi indonesia kehilangan petunjuk mengenai umu/ asal dari jenis batuan/ lapisan batuan.
Untuk mengatasi masalah tersebut bahwa Verbeek dan fennema berusaha menyusun Tarikh Geologi indonesia pada tahun 1938 atas dasar lotologi/ jenis-jenis batuan. Sebenarnya penyusunan stratigrafi harus didasarkan pada hasil penelitian palaeontologi tidak di benarkan menyusunnya atas dasar litologi sebab umur batuan tak dapat di tafsirkan dengan menggunakan sifat maupun jenis batuan, adapun dasar pikiran Verbeeck dan Fennema dalam menyususn tarikh Geologi indonesia atas dasar litologi adalah :
1. secara sadar mereka mengambil pendirian yang bertentangan dengan dalil yang melarang penyusunan tarikh Geologi berdasarkan litologi, mengigat tidak adanya petunjuk lain yang dapat di jadikan pegangan dalam zaman gelap gulita tsb.mereka bukanya tidak suka tetapi karena mengingat kebutuhan yang mendesak.
2. Mereka berpendirian bahwa dimana-mana di pulau jawa khususnya dalam periode Neogen tertulis akhir dimulai dengan aktivitas Vulkanisme yang sangat dahsyat, Menghasilkan batuan-batuan andesit dan basalt.
3. Kalau harus melakukan penelitian palaeontologi terlebih dahulu untuk menyusun tarikh Geologi indonesia akan membutuhkan waktu yang sangat lama dan lagi mereka bukanlah ahli palaeontologi.
4. Demikianlah mereka mencoba menyusun tarikh Geologi atas dasar litologisambil berusaha pula mencari hubungan penuh/ petunju yang dapat di gunakan sebagai pegangan dalam melakukan korelasi atau penasabahan dengan eropa.
Demikanlah Stratigrafi indonesia untuk periode tertier dan kuarter disusun berdasarkan litologi yang dengan sendirinya sangat banyak kekurangan/ kelemahannya namun sekalipun demikian pembagian Verbeeck dan Fennema tsb. Bukanya tidak bearti sama sekali sebab ternyata masih digunakan sampai sekarang sebab belum ada pembagian lain yang lebih baik disamping pembagian mereka ini sangat bermanfaat bagi ahli ilmu tanah sebab langsung dapat menunjukan bahan asal/ bahan induk tanah sekaligus sifatnya.
Yang terpenting dari pembagian Verbeeck dan Fennema adalah perlapisan batuan pada periode miasen yang di beri kode M1, M2, M3.
1. Etage. M1 (tingkatan breksi), yaitu perlapisan batuan yang terjadi sesudah terbentuknya gunung api tua di indonesia. Tanah yang berasal dari gunung api ini umumnya kaya mineral bahan Vulkanis sehingga di anggap baik/ potensi kesuburannya tinggi.
2. Etage. M2 (tinkatan mergel),yaitu perlapisan batuan yang telah terjadi setelah terbentuk lapisan M1. tanah yang berasal dari tingkatan ini umumnya berupa tanah-tanah mergel/ margalit, suatu campuran lempung atau kapur. Sifatnya kurang baik karena pokok sulit merembeskan air sehingga tata air tanah jelek.
3. Etage. M3 (tingkatan kapur), yaitu perlapisaan batuan yang terjadi setelah terbentuk lapisan M2. tanah yang berasal dari batuan ini berupa tanah-tanah kapur dengan cirinya mineral-mineral cepat larut/ tercuci ke lapisan bawah dan tata air tanah yang kurang baik sehingga kurang baik untuk peretanian.

BAB II
TEORI UNDASI

Teori undasi adalah teori yang disusun oleh Van Bemmelen untuk menerangkan proses terjadinya busur-busur pegunungan yang menjadi kerangka pokok pulau-pulau di indonesia dan sekitarnya. Bemmelen mengemukakan bahwa di lapisan silikat (Tektonosfir) khususnya dilapisan Salsima/ Sialma terjadi peristiwa kimia-fisika yang disebut hypodifferensiasi sebagai akibat tekanan dari atas dan makin besarnya perbedaan-perbedaan atau gradien temperatur, tekanan dan konsentrasi. Karena perubahan tersebut maka terjadilah reaksi kimia dilapisan kental salsima, dan akhirnya terjadi permisahan magma secara kimiawi disertai gerakan pemindahan magma adanya gerakan itu mengakibatkan perubahan gaya berat di permukaan bumi dan selanjutnya menghasilkan gerakan-gerakan kerak bumi untuk mencapai keseimbangan kembali. Demikianlah daerah yang mengalami Anomali Gravitasi Positif cenderung menurun sedangkan Anomali Gravitasi Negatif cenderung terangkat. Demikianlah permukaan bumi mengalami penggelombangan yang dikenal dengan istilah UNDASI. UNDASI OF THEORY
Teori undasi (Penggelombangan). Factor-faktor yang memicu terjadinya gelombang adalah Tenaga geologi terutama “Indogen”
Istilah penggelombangan ada dua macam yaitu penggelombangan yang teratur seperti ”getaran senar, getaran suara” dsb. Dikenal dengan nama Oscillasi sebagaimana digunakan oleh Haarmon dan Bailyol yang kedua adalah undasi sebagaimana yang digunakan oleh Van Bemmelen dan Stitle adalah penggelombangan yang agak teratur tetapi periodik/ terputus-putus artinya selang beberapa waktu baru muncul kembali.
Untuk memahami teori Undasi sebagaimana telah digambarkan di atas secara ringkas, maka secara berturut-turut akan di bicarakan mengenai prisip umum teori undasi, beberapa istilah tektogenesa, lapisan-lapisan silikat, proses Hypodifferensiasi dan sifat-sifat pengangkatan/ penurunan busur pegunungan.
A. Prinsip Umum Teori Undasi
Prinsip umum proses pembentukan pegunungan di indonesia adalah sebagai berikut:
1. Siklus pembentukan pegunugan dimulai dari pusat diatropisma di sumbu Geosinklinal utama yang terbentuk pada Era Palaeozoikum muda.
2. Dari sumbu Geosinklinal ininterjadi perlengkungan ke atas membentuk Geantiklinal yang mungkin bersifat vulaknis pengangkatan Geantiklinal ini dikompensasikan oleh adanya perlengkungan ke bawah di kedua sisi Geantiklinal tadi yang disebut Sidedeep
3. Setelah 20-30 juta tahun kemudian dari pelung samping tadi muncul Geantiklin yang mula-mula bersifat non-vulkanis, palung kompensasinya terbentuk lagi di sisi luar membentuk palung depan (foredcep). Geantiklinal menurun kembali menjadi basin sentral.
4. Geantiklinal yang terjadi dari foredecp seperti itu akan menghasilkan serangkaian penggelombangan dimana pengangkatan bersifat non-vulkanis, pengangkatan II bersifat vulkanis dan keaktifitas vulkanisme telah post vilkanisme (sifat ini khususnya berlaku untuk pengelombangan di daerah Asid dan Australia yaitu maluku, sulawesi dan kalimantan, di philipina, sumatera dan jawa dimana berbatasan dengan cekungan dasar laut yang dalam, pengangkatan III juga bersifat vulkanis karena terjadi pengaktifan kembali vulkanisme. Lain lagi di Birma dimana busur dalamnya telah padam karena diapit oleh semenanjung india dan massif Thailand & kamboja).
5. Setelah puluhan juta tahun kemudian dari foredecp muncul lagi Geantiklin baru dengan kompensasinya berupa foredeep baru disisi luar, yang dalam melewati waktu mengalami pula serangkaian pengangkatan dan penurunan dengan ciri umum seperti tadi : pengangkatan I non-vulkanis, ke II vulkanis dan III post vulkanisme.
6. Demikianlah selanjutnya pengangkatan Geantiklinal baru terjadidisisi luar sehingga jauh dari pusat penggelombangan mula-mula.
7. Gaya endogen di daerah bagian tengah (daerah yang disebutkan dalam point 2 dan 3) pada masa ini kurang lebih padam. Basin sentral yang luas ini berkembang menjadi patahan blok antar pegunungan dengan ciri-ciri benua/ sudah stabil.
Demikianlah serangkaian busur pegunungan akan terbentuk makin menyebar kearah luar dari pusat undasi di sumbu Geasinklinal yang pada akhirnya akan berhenti bila telah mencapai batas benua untuk memudahkan memahami penyebaran busur pegunungan tsb. Dapat di ikuti lewat gambar di halaman 10.
KETERANGAN GAMBAR
- Bagian yang di arsir adalah kerak bumi dengan batuan kristalin silisium-Aluminium (dimana terdapat juga dapur dengan lokal secara tersebar), dan batuan sendimen.
- Bagian yang diberi tanda titik adalah akar pegunugan/ Asthanolith dengan materi yang belum mengalami kristalisasi, hasil dari deferensiasi magma induk di salsima/ sialma.
- +P : Pengangkatan Tektonik Primer
- - P : Penurunan Tektonik Primer
- O : Oscillasi Tektonik Primer
- S : Glioning Tektonik Sekunder dari lipatan
- R : Backward Sliding (Ruckfaltung)
1. Masa Geosinklinal : Geo–Undasi (pengangkatan daerah benau dengan kompensasinya berupa laut Geosinklinal). Pada lapisan yang dalam dibagian tengah Geosinklinal terjadi podifferensiasi magma induk yang diransang oleh tekanan lapisan dari atas dan makin besarnya gradien temperatur dan konsentrasi.
2. Masa Embrio : terjadi pengangkatan rangkaian pegunungan menengah (permulaan dari sistem Meso-Undasi) sebagai konsekuensinya dari pemerasan secara hidrostatis magma granitis Asthenolith (Squeezing up) pengangkatan ini dikompensasikan oleh penurunan palung disampingnya dibawah palung ini, proses hypodifferensiasi terjadi lagi.
3. Masa Muda : Sesudah beberapa tahun kedua palung disamping Geantiklin tadi tertekan ke atas oleh Asthenolith baru dan terbentuk lagi palung kompensasinya dibagian depan pegunungan menegah yang terbentuk pada masa embrio jadi mengalami penurunan membentuk Depressi sentral. Pengangkatan Geantiklin dari feredeep pada masa ini umumnya bersifat non-vulkanis pada mulanya karena magma belum ada salurannya kepermukaan bumi.
4. Masa Dewasa Awal : Pengelombangan kerak bumi yang bergeser kearah luar ini menghasilkan busur luar yang non-vulkanis dengan struktur Ovarthrust sentrifugal, dan busur dalam yang vulkanis. Bagian tengah mengalami penggelombangan busur-busur pegunungan ini juga merupakan Inter-mountain. Perkembangan busur pegunungan ini juga menyesuiakan arah struktur pokoknya dengan struktur tepi benua yang menghambat pergeseran lateral busur pegunungan ini.
5. Masa Dewasa : Penyebaran penggelombangan kesamping terhalang oleh benua. Foredeep yang terbentuk sebagai kompensasidari pengangkatan Geantiklinal tidak seberapa dalam sehingga tidak meransang terjadinya proses hypodifferensiasi di lapisan bawahnya demikianlah akhirnya akan tersusul oleh sistem penggelombangan kerak bumi berikutnya ditekan ke atas membentuk rangkaian pegunungan tepi benua bagian belakangnya dapat mengalami Backward Sliding (Ruckfaltung) seperti halnya pegunungan Alpen.
B. Tektogenesa
Adalah segala gerak-gerak didalam kerak bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan/ deformasi bentuk kerak bumi Haarmann (1030) membedakannya atas Tektonik primer dan Tektonik sekunder.
Tektonik Primer adalah gerak vertikal dari dalam yang menyebabkan deformasi kerak bumi. Arah gerakan tegak lurus dari permukaan Geoid. Undasi termasuk dalam tektonik primer ini. Berdasarkan besarnya undasi, van Bammelen membedakan undasi atas :
1. Geo-Undasi : Meliputi daerah yang lebarnya 1.000 km atau lebih, berupa plato benua dengan kompensasi cekungan dasar laut sebagai Geosinklinal menurut W.Wahl, interval terjadinya Geo-Undasi rawa-rawa 165 juta tahun (maksimal 231 juta th, minimal 95 juta th). Terjadilah penggelombangan ini berkaitan dengan peristiwa kimia-fisika/ hypodifferensiasi dilapisan Suberustal/ Substratum/ Subailikat, sampai kedalaman 800 km.
2. Meso-Undasi : Lebarnya sampai beberapa ratus km dengan interval penggelombangan hannya puluhan juta th, dan berkaitan dengan proses hypodifferensiasi di lapisan salsima (Tektonosfir tengah) dengan kedalaman sekitar kurang dari 100 km.
3. Minor-Undasi : Lebarnya hanya puluhan km, dan terbatas pada lapisan epidermis saja.
Tektonik sekunder hádala reaksi Gravitacional terhadap tektonik primer untuk mencapai keseimbangan. Arah gerakan terutama horizontal permukaan Gemid, menurut dalamnya lapisan kerak bumi yang terpengaruh/ mengalami deformasi, maka tektonik sekunder dibedakan atas :
1. Tektonik Sekunder Suberustal dan Bathydermal perubahan kerak bumi yang meliputi bagian dari zona Migratit sebagai akibat dari tektonik sekunder digolongkan Bathydermal. Contohnya : adalah penurunan selat sunda yang pada periode pliosen maíz berupa ujung selatan dari bukit barisan, kemudian mengalamipemerosotan sampai sedalam 6.000 m, pada periode Plio-Pleistosen pegunungan Sehwaner di kalimantan juga termasuk mengalami tektonik Bathydermal menurut Van Emmichoven, dimana mengalami pengangkatan tinggi kemudian merosot kembali.
2. Tektonik Sekunder Termal perubahan kerak bumi yang dihasilkan Tektonik Sekunder ini tidak begitu dalam. Contohnya : Geantiklinal Nusantenggara merosot kearah utara/ kedasar laut sebagaimana dapat di amati dengan jelas di teluk maumere(flores) dan teluk saleh di sumbawa.
3. Tektonik Sekunder Epidermal perubahan kerak bumi hanya meliputi lapisan sendimen yang Belum kukuh dibagian luar kerak bumi termasuk didalamnya antara lain : Slumping, Squeezing-out, Volcano-Tectonic Collapse, Free-Gliding, Compressiva Settling.
a. Slumping, adalah gerakan batuan sendimen yang Belem koheren menuruni lereng sebagai akibat gaya beratnya. Contohnya : adalah Slumping di lereng barat G. Raung, mencapai jauh 60 km
b. Squeezing-out, adalah terperasnya keluar materi-materi plastik lewat celah-celah batuan sebagai akibat dari tekanan lapisan massif di atasnya, bukit Nanggulan di Kulon progo adalah salah satu contoh dari Tektonik Sekunder Epidermal Squeezing-out.
c. Voloeno-Tectonic Collapse, adalah pemerosotan sebagi akibat gabungan peristiwa Vulkanisme dan Tektonisme banyak gunug api yang tumbuh dari lapisan yang plastas/ sendimen lunak, dan karena tidak kyat menahan tubuh gunung yang berat disertai gaya yang dihasilkan aktivitas Vulkanisme gunung api tsb. Maka tubuh gunung itu akan mengalami pergeseran tempat. Contoh : G. Merapi pada letusannya tahun 1006 (Candi mendut, Pawan dan Brobudur terkubur), merosot kearah barat menghasilkan lipatan kaki bukit gendol.
d. Frec-Gliding, adalah peluncuran secara bebas mengikuti lereng sebagai akibat lapisan sendimen plastis diatne massif batuan, yang Madang-kadang dibantu oleh kehadiran air sebagai pelicin. Contohnya :
G. Pawinihan & G. Telogolili disebelah utara Banjarnegara, meluncur kearah lembah serayu dengan kecepatan sekitar 24-40 cm/ th.
e. Compressive Settling, adalah pelipatan lapisan endapan di dalam statu lembah sebagai akibat dari tekanan Gravitasi dari kedua belah sisinya. Contohnya : adalah rangkaian perbukitan Geosinclinal sumatera timur dan jawa utara yang akan sering disinggung dalam uraian-uraian dibelakang misalnya ladang minyak di sumatera selatan : Antiklinorium Muara Enam-Batu raja-terbina tinggi, Antiklinoria talang akar-pendapatan Palembang.

C. Lapisan – lapisan Selimut Silikat (Tektonosfir)
Selimut batuan (Mantle Rock) dapat dibagi atas 2 bagian yaitu Tektonosfir/ Crust/ Selimut silikat sampai kedalaman 100 - 200 km, dan Bathysfir di bawahnya sampai kedalaman 1.200 km.
1. Tektonosfir, dapat di bagi lagi atas beberapa lapisan ;
a. Epidermis, terbatas pada lapisan endapan yang belum kokoh dibagian terluar dengan ketebalan maksimal sekitar 10 km (di Gesinklinal ). Densitasnya rata-rata(2 – 2,8) Kec. Gelombang Primer di lapisan ini sekitar 4,25 km/ detik.
b. Sial (Silisium - Aluminium), lapisan dengan materi utama berupa mineral silikat aluminium yang mengkristal bersifar asam dan kekentalannya rendah. Tebalnya sekitar 10 – 25 km, densitas 2,7 – 2,8 Kec. Gelombang Primer sekitar 5,5 – 6 km/ detik, kedua lapisan di atas tergolong zone Fracture, artinya daerah yang batuannya keras/ rigid.
c. Asthenolithic Mt. Roots, akar pegunungan yang terdiri dari materi magma dengan kemasaman sedang sebagian mengkristal tebal maksimumnya sekitar 30 km dan hanya dijumpai di bawah suatu pegunugan Densitas batuan kira-kira 2,3 – 2,7 Kec. Gelombang Primer tidak jelas dilapisan ini.
d. Salsima/ Sialma, merupakan zone magma induk dengan ketebalan tinggi. Tebalnya sekitar 15 – 30 km. Disinilah terjadi proses hypodifferensiasi magma dimana bagian atasnya sebagian berupa kristal basalt dan bagian bawahnya berupa basalt yang vitreous/ tidak mengkristal seperti kaca secara keseluruhan diwarnai oleh materi non-kristalen. Desitasnya 2,8 – 3,0 kecepatan gelombang primer berkisar 6,5 km/ detik.
e. Mohorovicio Discontinuity, merupakan batas bawah dari kerak bumi dalam pandangan Geotektonik letaknya antara kedalaman 30 – 55 km. Lapisan antara ini menunjukan perubahan kecepatan Gelombang Primer yang sangat menyolok dari sekitar 6,5 di lapisan salsima menjadi sekitar 8 km/dtk. Dilapisan sima bearti terjadi perubahan materi yang cukup menyolok dari materi yang kurang berat tapi padat ke materi berat namun kental dari materi asam sampai base ke materi yang bersifat ultra basa sa.
F. Sima lapisan silikat magnesium yang bersifat Ultra-basa dengan kekentalan tinggi. Tebalnya + 50 km, Densitas 3,2-3,4 dan Kec. Gelombang Primer sekitar 8 km/ dtk.
2. Bathysfir (Subcrustal/ Substratum/ Subsilikat/ Sifame), adalah lapisan yang lebih dalam lagi dimana kandungan silikat semakin berkurang menurut kedalamannya, sifatnya Ultra-basa dengan kekentalan tinggi. Tebalnya sampai kekedalaman 1.200 km Densitas naik dari 3,4 menjadi 4, Kec. Gelombang primer naik dari 7,9 menjadi 11,4 km/dtk dikedalaman 1.200 km. Gaya vertikal yang berasal dari lapisan ini sebagai akibat dari proses hypodifferensiasi sangat kuat dan mempengaruhi lapisan-lapisan diatasnya menghasilkan penggelombangan Geo-Undasi.

KETERANGAN :
Magma menurut konsep orthodox adalah larutan molekul dari batuan, terutama tersusun dari silikat dengan sifat yang tidak tetap, selalu bergerak/ mobil karena kandungan airnya menurut konsep moderen magma seperti bubur susu (milky rice puding) dari campuran kristal dan cairan, asal mulanya dari energi batuan dari berbagai komposisi kimia dan mineral yang berubah sifat akibat pengaruh intrusi.

Kepustakaan :
1. Geologi Indonesia – JP Buranda ( Geografi UM Malang )
2. Geologi Indonesia – Van Bemmelen ( 1968 – Tjepat Yogyakarta )
3. Geologi – J.A. Katili dan P.Marks ( Kilatmadju Bandung )
4. Sumber Daya Alam Untuk Pembangunan Nasional – JA Katili ( 1983 – Ghalia Indonesia )
5. Bahan Galian Industri – Sukandarrumidi ( 1999 – Gama Press Yogyakarta )
6. Mengenal Hasil Tambang Indonesia – Bacrawi Sanusi ( 1984 – Bina Aksara-Jakarta )
7. Physical Geology – L Don Leet dan Sheldon Judson ( 1995 – Prentice Hall New Jersey )
8. Phhysical Geology – Plummer, Charles C & David Mc Geary
9. Pengantar Dasar ilmu Gunung Api – Muzil Alzwar dkk ( 1988 – Nova Bandung )

I. Pengantar
Kondisi Geologi Indonesia yang sangat kompleks merupakan obyek yang menarik bagi para ahli geologi. Gugusan pulau di Hindia Timur ini merupakan bagian permukaan bumi yang paling ruwet; bahkan gugusan kepulauan di Amerika Tengah yang dalam banyak hal menunjukan persamaan, tetapi sebernya tidak mempunyai persamaan dalam perubahan bentuk dan struktur geologinya (Van Bemmelen, 1968).
Sejak jaman penjajahan hingga saat ini Indonesia sering di kunjungi para ahli Geologi manca negara, yang mana dalam waktu 100 tahun terakhir tidak kurang dari 1000 orang ahli geologi asing (dunia) telah datang ke Indonesia. Misalnya, RML Rutten dan Brower (Ikhtisar Stratigrafi Indonesia), Umbgrove (Sejarah Gelogi Indonesia), Blaufort & Rutten (Palaeontologi Indonesia), Verbeeck & Fennema (Tarikh Geologi Indonesia), Verstappen, Keunen, Vening Minesz, Wallancea, Molengraf, Junghuhn dll.

Faktor-faktor yang menarik bangsa asing datang ke indonesia adalah
1. banyak terjadi gempa bumi (500 kali/ thn), untungnya sebagian besar gempa terjadi di dasar laut sehingga tidak banyak menelan korban jiwa dan harta benda.
2. Vulkanisme sangat aktif (128 Gunung Api aktif), dari sekitar 400-500 Gunung yang ada di indonesia, sebanyak 128 gunung aktif dan 70 gunung tergolong berbahaya, 26 gunung diawasi terus dan 6 gunung diantaranya diawasi terus secara ketat dengan membangung pos pengamatan.
3. Adanya penyimpangan gaya berat (anomali gravitasi) yang cukup besar (sekitar 204 mgal antaranya pulau Sulawesi dan Halmahera).
4. Reliaf sangat Besar, titik tertinggi di puncak jaya sekitar 5.030 m dari permukaan laut dan titik terendah dari laut banda sekitar 5.800 m dpl.
5. Endapan yang sangat tebal di Idio-Geosinklinal (tebal sekitar 10.000 meter).
Idio-Geosinklinal yang berisi endapan sangat tebal tersebut, menurut Haung hanya mungkin bila terjadi proses sendimentasi seirama dengan proses penurunan daerah geosinklinal secara perlahan.
Menurut Bemmelen kajian Geologi Indonesia tidak di batasi leh batas wilayah politik/ teritorial. Walaupun dari segi geotektonik geologi indonesia meliputi bagian sentral dari gugusan pulau antara Benua Asian dan Australia serta antara Samudra Hindia dan Pasifik. Akan tetapi Van Bemmelen mengulas daerah yang lebih luas meliputi seluruh wilayah yang terbentang dari 21o LU – 11o LS dan 92o15’ BT – 150o48’ BT. Alasnya adalah agar di peroleh gambaran geologi indonesia secara lebih lengkap, karena secara geologi memangmasih ada kaitannya, degan demikian uraian geologi indonesia Van Bemmelen mencakup wilayah Malaysia, Kalimantan Utara, Philipina, Irian Timur dan Pulau Chrismast.

2. Garis Besar Sejarah Terbentuknya Rangkaian Pegunungan di Indonesia
Rangkaian pegunungan muda sirkum mediteran dan sirkum pasifik merupakan pengangkatan geosinklinal utama yang terbetuk pada era paleozoikum muda (Davon, Perm, Carbon). Jadi siklus pembentukan pegunungan di mulai dari terbentuknya geosinklinal utama saat itu. Pada era mesozoikum bawah/tua, indonesia masih bersambung dengan Eropa lewat laut yang terkenal dengan laut Tethys. Oleh karean itu maka penelitian palaeontologi dan stratigrafi untuk penentuan tarikh Geologi Indonesia hingga era tersier, masih dapat menggunakan hasil penelitian di Eropa yang sudah di susun secara lengkap dan teratur, karena fosil yang terbentuk pada masa yang sama di kedua bagian dunia tersebut menunjukan kesamaan.
Namun demikian untuk jaman pra-kambrium (Cryptozoikum), lapisan batuan di indonesia sulit sekali di susun berdasarkan umurnya, karena tidak adanya fosil yang berasal dari zaman ini di ketemukan. Kalaupun pada zaman itu sudah ada kehidupan, fosil yang terbentuk sudah rusk karena proses-proses endogen yang sangat aktif di indonesia. Di samping tiu endapan-endapan masa pra-kambrium telah tertimbun jauh di bawah lapisan endapan tersier dan kuarter sehingga sulit di teliti.
Pada akhir sekunder/awal tersier terjadilah peristiwa geologi hebat di indonesia yang di kenal dengan Revolusi Alam 1 (laut Tethya mengalami pengangkatan membentuk sirkum mediteran). Sirkum pasifik juga terbentuk pada masa ini, pengangkatan geosinklinal utama ini dikenal sebagai Geo Undasi (Bemmelen) atau General Undation (Stille).
Peristiwa undasi inilah yang di uraikan Van Bemmelen untuk menerangkan sruktur geologi pokok rangkain pulau-pulau di indonesia dan sekitarnya. Kerangka pokok pulau-pulau kita yang berupa pegunungan di telusuri asal-usulnya lewat teori Undasi.
Dengan pegunungan muda yang banyak di temukan di indonesia berasal dari masa tersier. Sedangkan lapisan batuan berumur pra-tersier sudah jarang di temukan misalnya di daerah Lok Ulo, Bayat dsb.
Rangkaian pegunungan sirkum mediteran bermula dari daerah sekitar laut tengah yaitu mulai dari pegunungan atlas di Afrika Utara – Arab – Irak – Iran – Afganistan – TransHimalaya – Yunan Barat Laut – kemudian membelok ke Sumater – Jawa – NusaTenggara dan berakhir di Maluku Selatan. Di maluku terjadi pertemuan dengan sirkum pasifik yang melewati daerah Maluku Utara. Batas rangkaian kedua pegunungan muda tersebut adalah deretan pulau-pulau mulai dari kepulauan Banggai di lengan timur Sulawesi ke Timur melalui Kepulauan Sulu, terus ke Irian Jaya.

Pada akhir tersier – awal kuarter terjadi peristiwa alam hebat II di indonesia yang di kenal sebagai Revolusi Alam II, di mana terjadi perlipatan hebata dan pembentukan pegunungan baru. Beberapa daerah dari Geosinklinal Sumatera Timur, Jawa Utara, Kalimantan Selatan dan Barat yang terisi dengan endapan tebal mengalami pengangkatandan perlipatan hebat membentuk pegunungan 30, Suligi-Lipat Zain, Kendeng Ridge dsb. Adapun bukti yang dijadikan pegangan adalah bahwa daerah yang dulunya berupa geosinklinal/laut telah mengalami pengangkatan menjadi dataran antara lain ;
1. Di temukannya batu karang di puncak gunung atau pegunungan tinggi. Hal ini di dasarkan pada hasil penelitian bahwa batu karang berasal dari binatang koral yang hidup di laut dangkal (shelf) < 200 m. 2. Tambang minyak yang di temukan di daerah perbukitan menunjukan bahwa daerah tersebut dulunya berupa laut yang mengalami pengangkatan, karena minyak bumi berasal dari Plankton yang hidup di dasar laut. Memasuki periode kuarter awal (Pleistosen/diluvium) terjadilah 4x zaman glasial di dunia, di selinggi zaman interglasial yang pengaruhnya terasa sampai di indonesia. Pada zaman glasial suhu bumi turun sekitar 2oC sehingga daerah air es meluas dari kutub sampai 40oLU di Ameriak Utara. Akibatnya muka air laut turun sekitar 70 m, sedangkan di zaman interglasial suhu bumi naik lagi sekitar 2oC dan es kutub mencair sehingga air laut naik 70 m. Dengan demikian pulau-pulau indonesia seperti Sumateraa, Jawa, Kalimantan bersambung pada zaman glasial dan terpisah laut pada zaman interglasial. Beberapa bukti meyakinkan bahwa pulau-pulau di indonesia barat dahulu pernah bersambung (juga pulau-pulau di dangkalan sahul) adalah ; 1. Di temukannya alur-alur sungai di dasar laut yang menunjukan sungai-sungai di Jawa dan Kalimantan bersambung kemudian bermuara di selat makasar. Demikian juga sungai-sungai di Sumatera dan Kalimantan Barat bermuara di laut China Selatan. 2. Jenis ikan sejenis di sungai-sungai di kalimantan Barat dan Sumatera Timur, serta di kalimantan Selatan dan Jawa Utara. 3. Fauna dan Flora ketiga pulau besar di indonesia barat tersebut sejenis, bahkan lebih jauh sejenis di daratan Asia tenggara. 4. Di temukannya tambang tiamh endapan dasar laut sekitar pulau Bangka-Belitung-Singkep, suatu petunjuk bahwa dasar laut tersebut dahulu merupakan daratan/kaki gunung, sebab kalau timah endapan tersebut terbawa oleh air sungai tentu tidak masuk akal karena logam timah terlalu berat untuk terbawa air. Sebagaimana di uraikan di muka bahwa hingga periode Pra-Tertier masih ada hubungan langsung dengan Eropa lewat laut Tethys, maka ahli-ahli yang emenliti keadaan geologi Indonesia mula-mula menyusun Tarikh geologi Indonesia atas dasar Tarikh Geologi Eropa yang telah tersusun teratur. Hal ini di mungkinkan karena ada persamaan Stratigrafi dan Palaeontologi beberapa tempat di kedua kawasan tersebut. Tetapi setelah pratertier, hubungan tersebut terputus sehingga organism di Eropa dan Indonesia mengalami perkembangan yang berbeda, lingkungan tempat hidupnya sudah sangat berbeda, jenis sudah berbeda sehingga fosil-fosil yang diketemukan di kedua bagian dunia tersebut sangat berbeda, dengan demikian tidak dapat lagi di lakukan korelasi untuk menyesuaikan umur lapisan batuan di kedua kawasan tersebut. Orang yang ingin mempelajari geologi Indonesia kehilangan petunjuk mengenai umur/asal dari jenis batuan/lapisan batuan. Untuk mengatasi masalah tersebut maka Verbeeck dan Fennema berusaha menyusun Tarikh Geologi Indonesia pada tahun 1928 atas dasar litologi/ jenis batuan. Sebenrnya penyusunan stratigrafi harus di dasarkan pada penelitian Palaeontologi tidak di benarkan menyusunya atas dasar litolgi, sebab umur batuan tidak dapat di tafsirkan dengan menggunakan sifat maupun jenis batuan. Adapun dasar pikiran Verbeeck dan Fennema dalam menyusun Tarikh Geologi Indonesia atas dasar litologi adalah ; 1. Secara sadar meraka mengambil pendirian yang bertentangan dengan dalil yang melarang penyusunan Tarikh geologi berdasarkan litologi, mengingat tidak adanya petunjuk lain yang di jadikan pegangan dalam zaman gelap gulita tersebut. Mereka bukannya tidak tahu, tetapi terpaksa mengingat kebutuhan yang mendesak. 2. Mereka berpendirian bahwa dimana-mana di pulau Jawa khususnya dalam periode Niogen (tertier akhir) dimulai dengan aktifitas Vulkanisme yang sangat dahsyat, menghasilkan batuan-batuan andesit dan basalt. 3. Kalau harus melakukan penelitian palaeontologi terlebih dahulu untuk menyusun Tarikh geoloi Indonesia, akanmembutuhkan waktu yang sangat lama dan lagi mereka bukanlah ahli Palaeontologi. 4. Mereka mencob menyusun Tarikh Geologi atas dasar litologi sambil berusaha mencari hubungan penuh/petunjuk-petunjuk yang dapat di gunakan sebagai pegangan dalam melakukan korelasi atau penasabahan dengan Eropa. Demikanlah stratigrafi Indonesia untukk periode tertier dan kwarter disusun berdasarkan litologi, yang dengan sendirinya sangat banyak kekurangan atau kelemahan. Namun sekalipun demikian, pembagian Verbeeck dan Fennema tersebut masih di gunakan sampai sekarang, karena belum ada pembagian yang lebih baik. Pembagian ini sangat bermanfaat bagi ahli ilmu tanah, sebab secara langsung dapat menunjukan bahan asal atau batuan induk tanah sekaligus sifatnya. Hal terpenting dari pembagian Verbeeck dan Fennema adalah perlapisan batuan pada periode miosen yang di beri kode M1, M2, M3 ; 1. Etage M1 (tingkatan breksi), yaitu perlapisan batuan yang terjadi sesudah terbentuknya gunung api tua di indonesia. Tanah yang berasal dari batuan ini umumnya kaya mineral batuan Vulkanis sehingga di anggap baik karena potensi kesuburannya tinggi. 2. Etage M2 (tingkatan mergel), yaitu perlapisan batuan yang terjadi setelah terbentuk lapisan M1. Tanah yang berasal dari tingkatan ini umumnya berupa tanah mergel/margelit, suatu campuran antara lempung dan kapur. Sifatnya kurang baik karena sulit merembeskan air sehingga tata air tanah jelek. 3. Etage M3 (tingkatan kapur), yaitu perlapisan batuan yang terjadi setelah terbentuk lapisan M2. Tanah yang berasal dari batuan ini berupa tanah kapur dengan cirri mineral tanah cepat larut/tercuci ke lapisan bawah dan tata air tanah yang kurang baik sehingga kurang baik untuk pertanian. WAKTU GEOLOGI Tahun Era (Masa) Periode (Jaman) Waktu Waktu Total Cenozoic Pleistocene (kwarter) 1.000.000 (kenozoikum) Pliocene 10.000.000 Miocene 15.000.000 Oligocene 10.000.000 Eocene 20.000.000 Paleocene 14.000.000 70.000.000 Mesozoic Cretaceous (kapur) 55.000.000 (Mesozoikum) Jurassic (Jura) 40.000.000 Triassic (Trias) 35.000.000 200.000.000 Paleozoic Permian 30.000.000 (Paleozoikum) Pennsylvanian 30.000.000 Mississippian 30.000.000 Devonian 40.000.000 Silurian 30.000.000 Ordovician 60.000.000 Cambrian 80.000.000 500.000.000 Proterozoikum 1.500.000.000 Azoikum 1.000.000.000 2,7 milyar thn Batu tertua 4-5 milyar thn Awal bumi 3. Teori Undasi Teori Undasi adalah teori untuk menerangkan proses terjadinya busur-busur pegunungan yang menjadi kerangka pokok pulau-pulau di Indonesia dan sekitarnya. Tekanan dari atas dan perbedaan gradient suhu dan konsentrasi lapisan salsima => terjadi peristiwa fisika-kimia (hypodifferensiasi) => akibatnya terjadi reaksi kimia di lapisan kental salsima => terjadi pemisahan magma secara kimiawi disertai gerakan pemindahan magma => perubahan gaya berat di permukaan bumi => menghasilkan gerakan kerak bumi untuk mencapai keseimbangan (daerah dengan anomaly gravitasi positif cenderung menurundan anomaly negative terangkat).

Penggelombangan ini di sebut UNDASI
Ada dua pengelombangan yaitu ;
1. Teratur (Oscillasi) digunakan Haarman dan Bailys
2. Agak teratur tetapi periodic/terputus-putus digunakan Bemmelen dan Stille

A. Prinsip Umum Teori Undasi
Prinsip umum proses pembentukan pegunungan di Indonesia ;
1). Siklus pembentukan pegunungan di mulai dari pusat diastropisme di sumbu Geosinklinal Utama (Era Palaeozoikum).
2). Di sumbu Geosinklinal terjadi pelengkungan ke atas membentuk geantiklinal (mungkin bersifat vulkanis) terjadi pelengkungan di kedua sisi geantiklinal (Sidedeep).
3). 20-30 juta tahun kemudian dari palung Sidedeep muncul geantiklin yang awalnya bersifat Non-Vulkanis. Palung kompensasi terbentuk di sisi luar membentuk palung depan (foredeep). Geantiklinal menurun kembali menjadi basin sentral.
4). Geantiklin dari foredeep tersebut menghasilkan serangkaian penggelombangan, dimana pengangkatan I (Non-Vulkanis),II (Vulkanis), dan III (post Vulkanisme = sifat ini berlaku pada penggelombangan antara Asia-Australia yaitu Maluku, Sulawesi dan Kalimantan). Di Philipina, Jawa dan Sumatrea karena berbatasan dengan cekungan dasar laut dalam, maka pengangkatan III juga Vulkanis karean terjadi pengaktifan kembali Vulkanisme. Di Burma busur dalamnya telah padam kerena di apit oleh Semenanjung India dan Massif Thailand dan Kamboja.
5). Setelah puluhan juta tahun, dari foredeep muncul Geantiklin baru dengan kompensasi berupa foredeep baru di sisi luar, yang dalam melewati waktu mengalami pula serangkaian pengangkatan dan penurunan dengan ciri umum seperti di atas ( I=NV, II=V, III=PV ).
6). Demikian seterusnya pengangkatan geantiklin baru terjadi di sisi luar sehingga semakin jauh dari pusat penggelombangan awal.
7). Gaya endogen di daerah tengah (poin 2 dan 3) saat ini telah padam, basin sentral berkembang menjadi patahan blok antar pegunungan dengan ciri benua (sudah stabil).
Demikianlah serangkaian busur pegunungan akan terbentuk semakin menyebar ke arah berhenti bila telah mencapai batas benua.

I. Masa Geosinklinal
Geo-Undasi pengankatan benua dengan kompensasi laut geosinklinal. Pada lapisan yang dalam di bagian Tengah geosinklianal terjadi hypodifferensiasi magma induk yang di rangsang tekanan lapisan dari atas dan makin besarnya gradient temperature dan konsentrasi.

II. Masa Embrio
Pengankatan rangkaian pegunungan menengah (permulaan system meso-Undasi) sebagai konsentrasi pemerasan secara hidrostatis magma granitites Asthenolith. Pengangkatan ini di kompensasi oleh penurunan palung di sampingnya. Di bawah palung ini proses hypodifferensiasi terjadi lagi.

III. Masa Muda
beberapa puluh tahun kemudian kedua palung di samping genatiklin tadi tertekan ke atas oleh asthenolith baru dan terbentuk lsgi palung kompensasinya di bagian depan. Pegunungan menengah yang terbentuk masa embrio tadi mengalami penurunan membentuk depressi sentral. Pengangkatan geantiklin dari foredeep pada masa ini awalnya bersifat non-vulkanis karena magma belum ada salurannya ke permukaan bumi.

IV. Masa Dewasa Awal
penggelombangan kerak bumi yang tergeser ke arah luar ini menghasilkan busur luar yang non-vulkanis dengan struktur Overthrust Sentrifugal, dan busur dalam yang vulkanis. Bagian tengah mengalami penggelombangan yang tidak teratur merupakan inter-mountain. Perkembangan busur-busur pegunungan ini juga menyesuaikan arah struktur pokoknya dengan struktur tepi benua yang menghambat pergeseran lateral busur pegunungan ini.

V. Masa Dewasa
Penyebaran penggelombangan kesamping terhalang oleh benua foredeep yang terbentuk sebagai kompensasi dari pengangkatan geantiklin tidak seberapa dalam sehingga tidak meransang terjadinya proses hypodifferensiasi di lapisan bawahnya. Demikianlah akhirnya akan tersusul oleh sistem penggelombangan kerak bumi berikutnya, ditekan keatas membentuk rangkaian pegunungan tepi benua. Bagian belakangnya dapat menglami Backward Sliding seperti halnya pegunungan Alpen.

B. Tektogenesa
Adalah segala gerak di dalam kerak bumi yang menyebabkan terjadinya perubahan atau deformasi bentuk kerak bumi.
Tektogenesa di bagi menjadi 2 (Hearmann);
1. Tektonik Primer
Gerak vertikal dari dalam yang menyebabkan deformasi kerak bumi. Undasi termasuk dalam tektonik primer.
Van Bemmelen membagi besarnya Undasi menjadi 3 yaitu;
a. Geo-Undasi
- Meliputi daerah selebar > 1000 km
- Berupa plato benua dengan kompensasi cekungan dasar laut sebagai geantiklinal.
- Penggelombangan berkaitan dengan peristiwa kimia, fisika, hypodifferensiasi di lapisan subcrustal, substratum, subsilikat sampai kedalaman 800 km
- Berlangsung selama 165 juta tahun (95 – 231 jth)
b. Meso – Undasi
- Meliputi dearah selebar beberapa tahun km
- Berkaitan dengan proses hypodifferensiasi di lapisan salsima sampai dengan < 100 km
- Berlangsung selama puluhan juta tahun
c. Minor Undasi
- Lebarnya Undasi
- Hannya terbatas pada lapisan epidermis
2. Tektonik Sekunder
Reaksi gravitsional terhadap tektonik primer untuk mencapai keseimbangan arah gerakan horisontal.
Berdasarkan dalamnya lapisan kerak bumi yang terpengaruh, tektonik sekunder di bedakan atas;
a. Tektonik Sekunder Subcrustal (Bathydermal)
- Perubahan kerak bumi sampai zone magmatis
- Cth; selat sunda (periode pliosen sebagai ujung selatan bukit barisan, pada periode plio-pleistosen merosot sampai sedalam 6000 m). pegunungan
b. Tektonik Sekunder Dermal
- Perubahan kerak bumi tidak begitu dalam
- Contoh; Geantiklinal Nusa Tenggara merosot kearah utara (dasar laut) sebagaimana dapat diamati dengan jelas di teluk Maumere (flores) dan teluk Saleh (Sumbawa).
3. Tektonik Sekunder Epidermal
Perubahan-perubahan kerak bumi hanya meliputi lapisan sendimen yang belum kukuh di bagian luar kerak bumi termasuk di dalamnya antara lain; Slumping, Squeazing Out, Vulkano-Tectonic Collapse, Free-Gliding, Compressive Setting.
a. Slumping
Adalah gerakan batuan sendimen yang belum koheren menuruni lereng sebagai gaya akibat beratnya. Contoh; Slumping di lereng barat G.Ruang, mencapai 60 km jauhnya.
b. Squeezing Out
Terperasnya keluar materi-materi plastislewat celah-celah batuan sebagai akibat dari tekanan lapisan massif diatasnya. Contoh; Bukit Nanggulan di kulun progo
c. Vulcano-Tectonic Collapse
Adalah pemerosotan sebagai akibat gabungan peristiwa vulkanisme dan tektonisme. Banyak gunung api yang tumbuh dari lapisan yang plastis/sendimen lunak, dan karena tidak kuat menahan tubuh gunung yang kuat menahan tubuh gunung yang beratdisertai gaya yang di hasilkan aktivitas vulkanisme gunung pai tersebut, maka tubuh gunung itu akan mengalami pergeseran tempat. Contoh; G. merapi pada letusannya tahun 1006 (dimana candi pawon, mendut dan brobudur terkubur), merosot kearah barat menghasilkan lipatan kaki bukit Gendol.
d. Free-Gliding
Adalah peluncuran secara bebas mengikuti lereng sebagai akibat lapisan sendimen plastis diatas massif batuan yang kadang-kadang di bantu oleh kehadiran air sebagai pelican. Contoh; G.Pawinihan dan G.Telogolili di sebelah Utara Banjarnegara, meluncur kearah lembah serayu dengan kecepatan sekitar 24-40 cm/thn.
e. Compressive Setting
Adalah pelipatan lapisan endapan didalam suatu lembah sebagai akibat dari tekanan gravitasi dari kedua belah sisinya. Contoh; Rangkaian perbukitan di Geosinklinal Sumatera Timur dan Jawa Utara yang akan sering disinggung dalam uraian-uraian di belakang, misalnya lading minyak di Sumatera Selatan, Antiklinorium Muara Enim-Baturaja-Tebing tinggi, Antiklinoria Talang Akar-Pendopo, Palembang.

C. Lapisan-Lapisan Selimut Silikat (Tektonosfir).
Selimut batuan (Mantle Rock) dapat di bagi atas 2 bagian yaitu Tektonosfir/Crust/Selimut Silikat sampai kedalaman 100-200 km, dan Bathysfir di bawahnya sampai kedalaman 1200 km.
1. Tektonosfir, dapat dibagi lagi atas beberapa lapisan;
a. Epidermis, terbatas pada lapisan endapan yang belum kukuh di bagian terluar, dengan ketebalan maksimal sekitar 10 km (Geonsiklinal). Densitasnya rata-rata 2-2,8 kecepatan gelombang primer di lapisan ini sekitar 4,25 km/dtk.
b. Sial (Silisium-Aluminium), lapisan dengan materi utama berupa mineral-mineral tebalnya sekitar 10-25 km, densitanya 2,7-2,8 kecepatan gelombang primer sekitar 5,5-6 km/dtk. Kedua lapisan di atas tergolong Zone Fracture, artinya daerah yang batuannya keras/rigid.
c. Asthenolithic Mt Roots, akar pegunungan yang terdiri dari materi magma dengan kesamaan sedang, sebagian mengkristal tebal maksimumnya sekitar 30 km dan hanya di jumpai di bawah suatu pegunungan. Densitasnya batuan sekitar 2,3-2,7 kecepatan gelombang primer di lapisan ini tidak jelas.
d. Salsima/sialma, merupakan Zone Magma Induk untuk kekentalan tinggi tebalnya sekitar 15-30 km. di lapisan inilah terjadi proses hipodifferensiasi magma, dimana bagian atasnya sebagian berupa kristal basalt dan bagian bawahnya berupa basalt yang vitreous atau tidak mengkristal seperti kaca, secara keseluruhan diwarnai oleh materi-materi non-kristalin. Densitasnya 2,8-3,0 kecepatan gelombang primer berkisar 6,5 km/dtk.
e. Mohoviric Discontinuity, merupakan batas bawah dari kerak bumi dalam pandangan geotektonik letaknya antara kedalaman 30-55 km. lapisan antara ini menunjukan perubahan kecepatan gelombang primer yang sangat menyolok dari sekitar 6,5 dari lapisan salsima menjadi sekitar 8 km/dtk di lapisan salsima. Berarti terjadi perubahan materi yang cukup menyolok dari materi yang kurang berat tapi padat ke materi berat namun kental dai materi asam sampai basa ke materi yang bersifat ultra basa.
f. Sima, lapisan silikat magnesium yang bersifat ultra basa denga kekentalan tinggi. Tebalnya kurang lebih 50 km densitasnya 3,2-3,4 dan kecepatan gelombang primer sekitar 8 km/dtk.

2. Bathisfir (Subcrustal/Substratum/Subsilikat/Sifema), adalah lapisan yang lebih dalam lagi dimana kandungan silikat semakin berkurang menurut kedalamannya. Sifatnya Ultra-basa dengan kekentalan tinggi tebalnya sampai kedalaman 1200 km. Densitasnya naik dari 3,4 menjadi 4 dan kecepatan gelombang primer naik dari 7,9 menjadi 11,4 km/dtk di kedalaman 1200 km. Gaya Vertikal yang berasal dari lapisan ini sebagai lapisan diatasnya menghasilkan penggelombangan Geo-Undasi.

D. Proses Hypodifferensiasi
Adalah proses pemisahan magma di lapisan salsima,dimana materi yang bersifat Ultra-Basa akan memasuki lapisan sima dibawahnya dan materi asam naik kelapisan sial di atasnya. Penyusupan magma keatas kedalam lapisan sial menimbulkan gaya vertikal yang menyebabkan terjadinya tonjolan dipermukaan bumi. Dibawah tonjolan/pegunungan tersebut terbentuk akar pegunungan/Asthenolith yang tersusun dari materi-materi magma dengan keasman sedang yang menyusup dari lapisan salsima tadi. Materi tersebut sebagian berupa kristal dan sebagian masih kental yang bila mengalami pendinginan akan mengkristal membentuk batuan beku dalam dengan demikian Asthenolith tidak lain dari pada Bathenolith atau Lacolith yang belum mengalami pembekuan.
Adapun penyebab proses Hypodifferensiasi dilapisan salsima diatas ada beberapa pendapat;
1. Wahl, Clusius dan Dickel berpendapat bahwa penyebabnya adalah diffuse thermos atau pancaran panas dan konveksi thermodinamika di lapisan silikat.
2. Soret dengan “Soret Principles”nya, lebih menekankan pengaruh gradient themos. Tetapi terdapat ini tidak dapat bertahan lama karena Chipman menyanggah bahwa bila akibat dari pengaruh gradient thermis bearti massa kental lapisan salsima tidak seragam. Selain itu proses differensiasi dapat berlangsung selama proses kristalisasi pada saat materi mengalami pembekuan.
3. Van Bemmelen lebih menekankan prose kimia-fisika yang di ransang oleh tekanan lapisan dari atas beserta gradient temperatur dan konsentrasi yang besar dari lapisan salsima. Karena perubahan foktro-faktor tersebut maka terjadilah reaksi-reaksi kimia dilapisan kental salsima yang akhirnya mengalami pemisaha secara kimia disertai gerakan pemindahan materi magma tersebut.
Perpindahan materi tersebut mengakibatkan perubahan densitasnya/gravitasi dipermukaan bumi. Perbedaan gravitasi selanjutnya menghasilkan Anomali Gravitasi dimana kecenderungan mencapai kedudukan isostasi akan menyebabkan terjadinya pengangkatan di daerah yang Anomali Gravitasi negatif dan penurunan didaerah yang Anomali Gravitasi positif.
Adapun proses hypodifferensiasi dilapisan silikat tidak berlangsung terus menerus/kotinyu dan tidak sama di semua tempat hal ini disebabkan oleh;
(1). Kecenderungan pendinginan materi kental, dimana kalau sudah membeku maka tidak terjadi lagi proses tersebut. (2). Distribusi radioaktif tidak merata didalam kerak bumi, yang merupakan sumber panas yang akan melawan pendinginan kosmik. (3). Perbedaan ketebalan kerak bumi menyebabkan perbedaan tekanan dan perbedaan dalam hal pemindahan panas ke permukaan bumi.
Proses terus belangsung sampai keadaan setempat dibawah foredeep meransang terjadinya hypodifferensiasi. Proses pengangkatan di foredeep merupakan salah satu yang memegang peranan penting karena makin tebal lapisan endapan makin besar pula tekanan kebawahnya. Keadaan local di lapisan salsima dibawah foredeep yang berkaitan dengan temperatur dan konsentrasi kimiawi adalah faktor-faktro penting yang berpengaruh pada proses hypodifferensiasi ini. Demikianlah proses pemisahan magma di lapisan salsima yang menghasilkan gaya keatas menyebabkan penggelombangan permukaan bumi. Magma yang menyusup dari lapisan salsima kelapisan sial mengalami akumulasi menjadi akar dari pegunungan yang terbentuk sebagai kompensasi dari Geantiklin ini maka di kedua Geantiklin mengalami penurunan membentuk foredeep baru.
Kalau di perhatikan salah satu rangkaian Geantiklinal lalu mengamati perkembangannya akan terlihat serangkaian peristiwa penggelombangan berupa pengangkatan dan penurunan kemudian disusul dengan pengangkatan lagi - penurunan lagi dan seterusnya.
Pengangkatan I : Sistem penggelombangan Meso Undasi, bersifat Non-Vulkanis. Dorongan magma dari salsima ke sial kemudian berakumulasi membentuk akar pegunungan/Asthenolith. Magma belum mampu menebus sampai ke permukaan bumi karena belum ada salurannya karena itu maka sifatnya Non-Vulkanis.
Penurunan I : Penurunan ini terjadi ketika terbentuk pengangkatan baru di foredeep peristiwa penurunan ini menyebabkan kerak bumi retak-retak, magma menyusup kedalam retakan dan bercampur dengan materi batuan penyusun kerak bumi (Migmatisasi).
Pengangkatan II : Dorongan magma ke atas penerobosan sampai ke permukaan bumi lewat retakan-retakan tadi, karena itu sifatnya Vulkanis.
Penurunan II : pada masa ini magma sudah mulai membeku sehingga keaktifan Vulkan juga mulai berkurang.
Pengangkatan III : Ketika mengalami pengangkatan lagi, daya dobrak magma ke permukaan bumi dengan demikian sifatnya tidak Vulkanis lagi (pos vulkanis). Magma yang membeku di bawah inilah yang dikenal sebagai Batholith atau Lacolith tergantung ciri-cirinya.
Demikianlah seterusnya, kalau masih mengalami pengangkatan IV maka batuan beku dalam terdorong keatas mendekati permukaan bumi itulah sebabnya daerah-daerah yang telah mengalami pengangkatan III merupakan daerah tambang bahkan galian letaknya dekat permukaan bumi atau malah menjadi tambang terbuka. Daerah ini menjadi daerah yang stabil dengan struktur lipatan hebat di Block-faulted sebagai akibat pengangkatan dan penurunan yang di alaminya berkali-kali.
Dalam menguraikan busur-busur pegunungan di indonesia baik ukuran fisiografis maupun geologisnya, Van Bemmelen mengambil dua busur terluas saja yang di sebut busur dalam (Inner Arc) dan busur luar (Outer Arc). Ciri utama kedua busur pegunungan tersebut adalah :
- Busur dalam, bersifat Vulkanis dan mengalami Anomaly Gravitasi Positif
- Busur luar, bersifat Non-Vulkanis, Anomaly Gravitasi Negatif umumnya merupakan pusat gempa bumi.

Suatu hal yang perlu dipahami dalam mempelajari evolusi geotektonik indonesia adalah bahwa daerah ini cukup luas kira-kira 4 % luas permukaan bumi. Fosil-fosil yang ditemukan dalam lapisan batuan kebanyakan berasal dari masa silur, lebih dari 300 juta tahun yang lalu . fosil-fosil tersebut sangat minim untuk mengungkapkan evolusi geologi indonesia. karena itu sangat diperlukan hypotesa kerja yang akan menuntun kearah penafsiran gejala-gejala yang ada menyusunnya bedasarkan teori-teori umum/konsep-konsep dasar geologi sebagai kerangka pola pemikiran. Contoh; adalah konsep dasar mengenai terbetnuknya lapisan sial atau kerak bumi. Ada pola pemikiran yang menyatakanbahwa lapisan keras ini telah ada sejak masa Pra-Arkheoikum hanya berubah dalam hal struktur dan distribusinya selama evolusi geologi. Dengan berpedoman pada konsep dasar yang demikian maka proses orogenesa dapat diterangkan sebagai hasil dari Gaya Commpressive Lateral dalam kerak bumi. Konsep dasar demikian dikenal sebagai “Mobillistic School”. Dimana pola pemikiran yang demikian menghasilkan teori pergeseran benua yang di kembangkan Wegener, Taylor dan sebagainya kemudian di terapkan Smith Sibinga dalam menerangkan keadaan geologis indonesia (1933). Pola pemikiran yang agak lain mengatakan bahwa selama evolusi geologi terjadi pertumbuhan atau pembentukan lapisan sial.
Pada konsep I, proses Orogenesis dapat di terangkan sebagai hasil dari gaya Compressive-Lateral dalam kerak bumi. Teori pergeseran benua yang di kembangkan Wegener, Taylor dan lain-lain. Diterapkan Smith Sibinga dalam menerangkan keadaan Geologi indonesia.
Pada konsep II, beranggapan bahwa kerak bumi ini statis, tidak berpindah tempat tetapi selalu bertambah tebal selama evolusi geologi. Pola pemikiran yang demikian juga banyak penganutnya antara lain Bertrand, Stille, Kober, Krans dan sebagainya.
Teori Undasi menggunakan konsep dasar yang agak berbeda dengan kedua konsep di atas. Konsep yang digunakan Van Bemmelen mirip dengan Fourmarier (1944, 1946, 1948) hanya berbeda dalam hal tenaga penyebab dari penggelombangan tersebut. Fourmarier lebih menekankan proses Themodinamika (misalnya kontraksi di bagian dalam dan pancaran unsure radioaktif), sedangkan Bemmelen lebih menekankan proses kimia fisika yang terjadi di lapisan silikat karena reaksi eksothermis dalam proses pendinginan kosmik.
Bemmelen mendasarkan teorinya pada pengamatan bahwa sistem pegunungan bermua dari geosinklinal yang kemudian berkembang sebagai system penggelombangan kerak bumi, menyebar dari sumbu geosinklinal kearah foreland jadi konsep ini menolak pandangan bahwa geosinklinal itu sempit dan terperas keluarnya magma yang ada didalam sebagai akibat dari pergeseran kesamping dari kerak bumi yang keras.
Teori undasi yang di formulasikan oleh Van Bemmelen untuk menerangkan proses terjadinya pegunungan yang menjadi kerangka kepulauan di indonesia mudah di pahami dan hingga kini masih tetap menjadi pegangan utama di perguruan-perguruan tinggi. Tetapi jalan pikiran Van Bemmelen tidak bearti mutlak benar tanpa kelemahan-kelemahan. Seringkali kita dibuat bingung dengan kenampakan-kenampakan yang bertentangan dengan teorinya, misalnya:
- Tidak setidaknya kita menjumpai pasangan busur dalam yang vulkanis dan busur luar yang Non-vulkanis, seperti yang di temukan di Sulawesi Tenggara.
- Kadang-kadang di jalur interdeep nampak gunung api aktif, yaitu G.Una-una atau di palung antara itu pulau yaitu Pulau Sumba.
Pola geotektonik indonesia dan sekitarnya yang sangat rumit kini nampak di bangun oleh empat sistem pegunungan yang bertemu di daerah Kepulauan Banggai dan Sula. Dari titik pertemuan inilah yang menyebar secara radial ke empat sistem pegunungan tersebut, yaitu:
1. Rangkaian pulau-pulau Asia Timur Keutara, melalui pegunungan di Sulawesi bagian Timur dan Utara juga di Kalimantan Utara.
2. Sistem melanesia ke Timur laut dan Timur membentuk pegunungan di Halmahera, kepala burung, Irian Jaya Utara.
3. Sistem Australia ke arah Tenggara dan Barat Daya membentuk pegunungan sentral Irian, Jaya Wijaya, Maoko, Sumba dan Timor di Nusatenggara.
4. Sistem pegunungan Sunda ke arah Barat membentuk rangkaian pulau-pulau di Nusatenggara, Jawa dan Sumatera.
Sebagaimana pernah di singgung di muka bahwa pada masa mesozoikum muda, daerah indonesia masih merupakan daerah Geosinklinal yang berupa laut Tethys, maka ke empat sistem pegunungan tersebut di atas baru terbentuk dalam periode Tersier dan Quarter lewat serangkaian penggelombangan Meso Undasi.
Ulasan di atas dapat di jelaskan seperti berikut:
a. Rangkaian pulau-pulau Asia Timur, merupakan sistem orogenesa bivergen artinya menyebar ke dua arah yaitu ke arah Hiterland di kenal sebagai pengelombangan imigrasi dan mengarah ke foreland di kenal dengan nama penggelombangan imigrasi. Rangkaian busur pegunungan ini dapat di telusuri sampai ke orogenesa Sulawesi, laut Sulawesi merupakan ujung selatan dari Zone Ragay yang memisahkan busur Samar (yang lanjutannya di indonesia berupa busur dalam Sangihe-Minahasa-busur luar Talaut ) dari busur luzon (yang juga berkelanjutan sampai di indonesia berupa busur dalam keplauan Sulu dan busur luar Zamboanga-Semenanjung Timur laut Kalimantan). Laut sulawesi ini menjadi pusat undasi pada periode Tersier – Quarter.
b. Sistem Melanesia juga mengalami penggelombangan bivergen, gelombangimigrasi mengarah ke Australia dan imigrasi ke pasifik. Busur pegunungan di indonesia yang termasuk sistem ini adalah busur pegunungan di Halmahera yang merupakan ujung Barat dari sistem pegunungan Melanesia. Busur dalamnya adalah Busur ternate yang bersambung dengan pegunungan di pantai Utara Irian Jaya. Busur luarnya sebagian bertampalan dengan busur luar dari talaud-P.Mayu-Tidore-Lengan Timur Sulawesi. Jadi pegunungan Talaud merupaka gabungan busur luar sistem Melanesia dan sistem Minahasa kemudian muali dari P.Mayu terpisah yakni sistem Melanesia busur luarnya ke tenggara masuk P.obi sedangkan sistem minahasa ke barat daya masuk lengan Timur Sulawesi, itulah sebabnya daerah ini merupakan daerah yang mengalami Anomali Isostasi Negatif paling besar di indonesia (hampir dua kali lipat dari daerah Anomali Isostasi Negatif lainnya yang pernah di teliti oleh Vening Meinesz).
c. Sistem pegunungan Sirkum Australia, penyebaran penggelombangan imigrasi ke arah pasifik terhalang oleh system penggelombangan Melanesia. Busur pegunungan yang di hasilkan dari sistem ini adalah pegunungan sentral Irian dengan puncaknya seperti puncak jaya (5030 m), dan pegunungan Doorman-Cyclon di pantai Utara. Di Nusatenggara juga terdapat busur pegunungan hasil penggelombangan dari sistem Australia ini. Pada masa/era Mesozoikum muda terbentuklah busur dalam P.Sumba ke timur laut dan busur luar dari P.Sawu-pantai Utara Timor P.Roti dan Timor merupaka Interdeep. Busur pegunungan yang terbentuk pada Era Mesozoikum muda ini dalam Era Tersier dipotong oleh sistem penggelombangan Sunda dengan pusat Undasinya di laut Flores. Demikianlah, maka Nusatenggara lebih dikenal sebagai bagian dari sistem Sunda. Perpotongan dua sistem penggelombangan ini pula yang menyebabkan kelainan-kelainan di Nusatenggara bagian Timur, seperti letak P.Sumba di interdeep, posisi dana – Sawu dan Roti - Timor sebagai busur luar, seolah tertukar.
d. Sistem pegunungan Sunda adalah cabang selatan dari sistem pegunungan Pasifik ujung Utara. Sistem pegunungan Sunda adalah;
1. Orogen Burma dengan pusat Undasinya di Plateau Shan, menghasilkan busur luar arakan Yoma dan busur dalam pos vulkanis Zone irawadi. Padamnya busur dalam yang mestinya bersifat vulkanis ini disebabkan oleh karena terapit oleh massa benua. Dengan demikian termasuk pengcualian juga seperti halnya daerah yang berbatasan dengan cekungan dasar laut dalam di Orogene Sumatera dan Jawa serta Orogene Melanesia yang sejak pengangkatan 1 telah bersifat vulkanis.
2. Orogene berikutnya dalam sistem pegunungan Sunda ini adalah seksi Andaman dan Nikobar yang pusat Undasinya terletak di Mergui, menghasilkan penggelombangan emigrasi yang mengarah ke Gondwanaland. Penggelombangan dari pusat Undasi Mergui ini menghasilkan sistem arah pegunungan di sumatera Utara (Atlas/gayo) Barat-Timur seperti pegunungan X, pegunungan Y, pegunungan Gayo Tengah. Dengan demikian Sumatera Utara terjadi pertemuan antara penggelombangan dengan pusat Undasi Mergui dan pusat Undasi Anambas. Titik pertemuannya adalah G.Pundak Lembu (2983 m), dimana kita akan menjumpai persebaran pegunungan seperti Roungh Van dalam ke Utara, Gayo Tengah ke Barat dan Wilhelmia ke Selatan/Tenggara.
3. Orogene Sumatera dengan pusat Undasi Anambas, penggelombangan dari Anambas ini telah berkembang sejak palaegoikum akhir, menghasilkan sistem Orogen Malaya pada mesozoikum bawah (Trias, jura). Orogene Sumatera pada masa Mesozoikum atas (Cretaceus) dan sistem Orogene Sunda pada masa tersier dan kuarter. Pada Orogene Malaya busur pegunungan yang terbentuk pada masa ini adalah Zone karimata sebagai Vulkanic Inner arcnya dan daerah timah sebagai non-vulkanic outer arcnya.
Sistem Orogene Sumatera meliputi busur pegunungan yang terbentuk pada masa itu adalah Sumatera Timur sebagai busur dalamnya dan Sumatera Barat menjadi busur luarnya. Sistem Orogene Sunda adalah busur pegunungan yang sekarang ini terdiri dari busur dalam Bukit Barisan dan busur luar pulau-pulau di sebelah barat Sumatera.
Evolusi Sistem Anambas dalam Ruang dan Waktu Dari skema diatas nampak jelas bahwa bukit barisan pada mesozoikum atas masih merupakan foredeep, memasuki tersier baru mengalami pengangkatan. Pada zaman tersier pualu-pulau di sebelah Barat Sumatera dari Nias sampai Enggano belum ada, memasuki zaman kuarter baru mengalami pengangkatan membentuk pulau-pulau tersebut, bahkan hingga sekarang masih mengalami pengangkatan sebagaimana ditunjukan oleh Anomali Gravitasi Negatif di daerah tersebut manurut Vening Meinesz.
Sebagai wakil dari sejarah geologi Sumatera, dibawah ini kita telusuri sejarah kejadian Bukit Barisan:
1. Mesozoikum bawah, bukit barisan masih merupakan foredeep dari Orogene Malaya, terisi dengan sendimen marine. Terjadinya penyusupan batuan opiolith (lava basa atau ultra basa) sebagaimana dapat dijumpai dipegunungan Garba dan Gumai (Sumatera Selatan).
2. Kapur atas mengalami pengangkatan I, terjadi intrusi batuan granit kedalam lapisan sendimen Slate masa Mesozoikum. Pegunungan yang terbentuk sifatnya masih Vulkanis dan dikenal sebagai proto Barisan.
3. Paleogen (Oligo-Miosen).

Theory ISOSTASI
( kedudukan seimbang ). Yaitu; pergerakkan bumi yang terus-menerus mencari keseimbangan yang merupakan salah satu penyebab ‘gaya tektonik’ (Teory isostasi), teory ini wujud materinya padat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar